Kamis, 22 Desember 2016

Jujur ??? Why NOT..

"Pes, aku kangen lembar jawabanmu pas ulangan."
"Lho, emang kenapa lembar jawabanku?"
"Iya, soalnya lembar jawabanmu nggak pernah kamu bagi-bagi, makanya aku kangen lembar jawabanmu"
"wkwkw.. lembar jawabanku bukan kunci jawaban, jadi nggak perlu dibagi-dibagi"
===========================
Itu adalah percakapan real di salah satu grup sosmed saya satu minggu yang lalu. Setelah menjawab chat seperti itu, saya berpikir mungkin saya ini dari jaman SD hingga kuliah dicap sebagai teman yang "gaplekki" kali ya?? Uhmm.. apa ya bahasa indonesianya gaplekki? wkwkkw.. mungkin sejenis dengan nyebelin yang level master.

Ketika ulangan saya memang tidak menyukai ataupun membenarkan kegiatan menyontek. Sering saat ulangan ada teman yang bisik-bisik memanggil saya agar menoleh dan memberikan contekan. Jujur, seringkali juga saya merasa bingung, cara seperti apa yang harus saya lakukan agar mereka memahami idealisme saya yang tidak mau mencontek ataupun memberi contekan. Baru di bangku kuliah ini saya menemukan solusinya. Yaitu duduk di kursi paling depan (saat sekolah kursinya sudah diatur panitia ujian), paling dekat dengan meja pengawas. Dengan demikian tidak ada lagi yang berani bisik-bisik memanggil nama, kecuali jika ingin kena semprot pengawas. ehehehe...

Bukan karena saya sok-sokan dan merasa paling pintar di kelas. Sama sekali bukan. Ini adalah soal idealisme yang entah sejak kapan sudah membentuk pribadi saya. Sekali lagi bukan karena sok-sokan, saya hanya ingin menjaga apa yang saya yakini benar. Tapi seringkali hal seperti ini menghambat saya dalam dunia sosial. Sejak dulu, teman-teman saya banyak yang mengatakan saya ini apatis karena saya tidak pernah "menoleh" saat ulangan. Sering saya katakan bahwa saya memang seperti itu sejak dulu, kalaupun ada pelajaran yang tidak kamu mengerti, tapi kamu merasa saya lebih mengerti, maka silahkan bertanya kepada saya ketika diluar jam ulangan. Bahkan saya membuka diri ketika ada teman yang meminjam buku catatan dan dibawa pulang. Tapi sikap demikian ternyata belum bisa melepas label apatis itu.

Saya meyakini bahwa kejujuran itu mendatangkan kemujuran. Kejujuran mendatangkan berkah. Dulu ketika SMA, saya adalah siswa yang tergolong rendah kemampuan matematikanya. Berkali-kali saya masuk dalam daftar siswa yang harus remidi matematika. Bahkan sekali waktu, pernah nilai saya hanya 19 dari total nilai sempurna 100. Meski begitu tidak lantas membuat saya mencontek saat ulangan matematika. Saya tetap mengerjakan sebisa saya, meski sering kali jawaban itu ngaco.. hehheee... Bahkan saking ngaconya, pernah saya mendapat teguran dari guru saya "Pes, kamu ini lho, soalnya cuma sebaris, tapi jawaban kamu sampai sehalaman dan nggak jluntrung samasekali"

Saya hanya cengengesan menanggapi komentar beliau. Ya mau bagaimana lagi memang saya tidak bisa mengerjakannya, wkwkwk..sudah bawaan lahir memang begitu adanya Tapi ajaibnya saya tidak pernah mendapat nilai rapot dibawah KKM untuk mata pelajaran matematika. Bahkan nilai rapot matematika saya pernah melampaui 80 hehehe..

Ketika akhir kelas dua SMA baru saya tahu alasan kenapa rapot matematika saya tidak pernah "merah". Ternyata guru saya itu memegang nasehat suaminya bahwa "Menjadi guru itu tidak cukup mengajar materi untuk membuat muridmu pintar, ada yang lebih penting dari itu, yaitu mendidik muridmu menjadi orang yang benar."

See.. guru saya menerapkan itu kepada murid-murinya. Beliau menghargai proses dari pada hasil. Beliau lebih mengapresiasi nilai minim tapi jujur, dari pada nilai tinggi tapi curang.
Hal-hal seperti itu yang ingin saya jaga. Hal-hal seperti itu yang ingin saya tularkan ketika saya menjadi guru bagi murid ataupun anak saya kelak. Sudahlah, mari sama-sama belajar untuk menjadi manusia yang jujur. Minimal dengan menumbuhkan sikap PD pada jawaban yang kita hasilkan sendiri diatas kertas ulangan. Tidak perlu khawatir dengan hasil akhir. Sepanjang kita telah berusaha melakukan yang terbaik, yakinlah bahwa DIA akan memberikan hasil yang terbaik pula..